RI Positif Corona, Bisnis Apa yang Paling Terdampak?

by - Maret 03, 2020

RI Positif Corona, Bisnis Apa yang Paling Terdampak?
Foto: Ilustrasi Gedung Perkantoran di Jakarta (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)


Jakarta, CNBC Indonesia - Pengusaha memandang adanya kasus pertama korban yang terkena virus corona, Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama dari sisi perekonomian. Mereka berharap masalah ini segera berakhir.


Ketua Umum BPD HIPMI Jaya Afifuddin Suhaeli Kalla mengatakan, dari sisi perdagangan, pengusaha bisa mengalami kerugian sampai 20% pada setiap sektor usaha.


"Dampak kerugian tepatnya kami belum mendata pasti ya, tapi aduan sudah banyak, saya kira sekitar 20 persen keuntungan terkena goncangan di setiap sektor," ujarnya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Senin (2/3/2020)

Afifuddin mengatakan, bahwa sektor yang paling terkena dampak dari adanya wabah COVID-19 ini adalah sektor perdagangan dan logistik pengiriman barang. Pasalnya banyak pengusaha yang mengandalkan barang baku yang harus di impor dari negara lain.

Oleh karena itu, lanjut dia Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan, karena Indonesia merupakan salah satu negara urutan ke-4 yang memiliki intensitas perdagangan tinggi dengan negara-negara yang terkena dampak virus corona.

"Jadi sebetulnya Indonesia harus tetap waspada. Mudah-mudahan ini bisa cepat kita lalui, supaya bisnis kembali lagi. Karena kalau ini berlarut-larut semua industri kan kena, khususnya industri pasar modal dan akan terkena dampak yang sangat besar ke sektor industri lainnya," tutur Afifuddin.


Sementara itu, Pengamat ekonomi yang juga Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, semua saat ini juga tidak punya jawaban pasti, berapa lama wabah virus corona ini bisa mewabah, dan tentu ini akan amat menentukan dampak ekonominya.

China, lanjut dia merupakan pusat jaringan produksi (production hub). Apabila China terdampak, maka global supply chain akan terganggu. Tapi apabila virus corona ini hanya berjalan 3 bulan, maka dampak supply-chain tidak akan terasa.

"Namun jika berjalan panjang maka input produksi atau bahan baku atau barang konsumsi yg berasal dari China akan terganggu. Implikasinya akan ada supply shock," kata Chatib dalam cuitan di twitternya @ChatibBasri, Senin (2/3/2020).

Maka dari itu, menurut Chatib perlu adanya antisipasi kenaikan harga sebelum adanya kelangkaan. Respon pemerintah dan Bank Indonesia (BI) dengan kebijakan fiskal dan moneter dalam jangka pendek, dinilai sudah tepat dalam mendorong permintaan.

Kendati demikian, kebijakan pemerintah dan BI tersebut harus dikombinasikan dengan ketersediaan barang. Apabila permintaan di dorong pada saat ketersediaan terganggu, maka dampaknya adalah kenaikan harga.

"Ekonomi memang bergerak, tapi inflasi juga meningkat. Karena itu, perusahaan perlu memikirkan substitusi dari sisi supply chain yang berasal dari China atau negara lain yang terjangkit. Jika produk lokal bisa mengisi kekosongan ini maka, situasi akan relatif terkendali dan juga pasar bagi lokal," jelas Chatib.

"Jika harga naik karena wabah berlangsung lama dan terjadi kelangkaan, maka perlindungan untuk kelompok menengah bawah menjadi penting," tuturnya.

Untuk diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengumumkan ada dua warga negara Indonesia (WNI) yang positif terpapar virus corona. Keduanya diduga terpapar karena sempat berkontak dengan seorang warga negara (WN) Jepang yang telah lebih dulu dinyatakan mengidap virus yang sama.

Kasus ini merupakan kasus pertama yang resmi dikeluarkan oleh negara setelah sebelumnya Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan juga mengumkan sedang memantau 115 orang yang dipantau terkait wabah virus corona.

"Ada orang Jepang yang ke Indonesia kemudian tinggal di Malaysia. Dicek di sana ternyata positif Corona. Tim di Indonesia langsung menelusuri," kata Jokowi. (hoi/hoi)











You May Also Like

0 komentar